Sore itu merupakan sore yang sangat menyesakkan hati bagi Jaka. Setelah seharian bekerja dan pulang kerumah, ia disuguhi dengan masalah pelik yang menjerat adiknya disekolah yang juga menyeret-nyeret ibunya dalam masalah ini.
“ini semua salah emak” ujar Al, adik Jaka
“kenapa emak yang disalahkan? Bukankah sekolahmu sudah selesai jadi ya emak bereskan barang-barang itu” Mak Su membantah
“lha ijazah belum diambil kok udah selesai” Al menimpali lagi
Ya, perdebatan itulah yang membuat kepala Jaka mau pecah. Bergulat dengan rasa penat dan lelah, Jaka mencoba menengahi masalah ini. Al pun menceritakan kronologi kejadian dimana dia tidak boleh mengambil Ijazahnya, karena menurut staff Tata Usaha di sekolahnya, ia masih mempunyai tunggakan uang SPP selama 2 bulan.
“sebenarnya ini ada apa sih?”
“ijazahku gak boleh diambil kak, soalnya kata staff Tata Usaha aku masih nunggak 2 bulan”
“lah waktu itu kan sudah kakak kasih uangnya, buat bayar spp bulan juni dan juli?”
“iya, tapi dicatatan TU nya, gak ada. Adanya di buku laporan SPP, yang sekarang hilang, karena semua barang-barang sekolahku di beresin sama emak”
“lha kata staff TUnya gimana?”
“besok emak disuruh kesana menjelaskan ke staff TUnya”
“ya sudah, emak besok kesana ya? Minta antar Hamid atau cak koes”
***
Keesokan harinya Emak Su pergi diantar oleh Hamid, anak baru gedhe yang mungkin belum terlalu banyak mengerti tentang hal ini. Dengan berpakaian baju yang dibeli pada lebaran beberapa tahun lalu, serta perasaan yang gamang dia pergi untuk menyelesaikan masaalah ijazah anaknya yang tidak boleh diambil. Sesampainya disekolah yang dijuluki oleh warga sekitar “kampus biru” itu. Emak Su bergegas turun dari motor dan langsung bertanya tentang letak ruangan TU, kepada orang yang sedang duduk di depan pintu gerbang.
Setelah mendapat penjelasan yang cukup, perempuan yang usianya sudah melampaui setengah abad inipun bergegas pergi menuju ruangan yang dimaksud. Terlihatlah wanita cantik memakai kerudung, parasnya ayu, pembawaannya pun lembut, Bu Nur namanya. Emak Su dipersilahkan duduk oleh Bu Nur, dan ditanya keperluannya datang kesitu. Dengan polos dan logat desa, Emak Su menjelaskan maksud kedatangannya. Bahwa dia ingin mengurus pembayaran SPP anaknya,Al, yang katanya ,masih nunggak 2 bulan padahal sudah dibayar sebelum ujian nasional berlangsung, tepatnya bulan April.
Dengan perkataan yang lembut, Bu Nur menjelaskan bahwa didalam catatannya memang anaknya Emak Su masih nunggak uang SPP selama 2 bulan. Merasa sudah membayar, Emak Su pun langsung menjelaskan bahwa uang tersebut sudah dibayarkan sebelum ujian nasional. Terjadilah perdebatan yang cukup sengit antara Emak Su dan wanita itu, dan berlangsung cukup lama sampai Bu Sri menegahi mereka. Wanita dengan perawakan yang ganas, dengan tutur kata yang sangat kasar, dia membentak emak su.
“ibu yakin anak ibu sudah membayar?”
“iya Nak, uang itu sudah dibayarkan untuk spp bulan juni dan juli”
“mana buktinya? Kartu SPPnya?”
“hilang nak, tapi saya yakin sudah membayar nak”
Ditanya mengenai bukti SPP, serasa dia di sambar petir disiang bolong. Bagaimana tidak, sebulan lalu Emak Su membereskan semua barang-barang sekolah milik Al, termasuk membakar tas sekolah yang disinyalir di dalamnya terdapat kartu SPP tersebut, karena sudah dianggap tidak perlu. Mungkin dalam benak Emak Su waktu itu, bahwa Al sudah bekerja dan telah menyelesaikan pendidikan menegah ke atasnya.
Pikirannya pun mulai melayang kemana-mana, mengingat kembali kejadian sebulan lalu itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa hanya karena membereskan barang-barang milik anaknya yang dikira urusan sekolahnya sudah selesai, kini berbuntut panjang, dan semakin rumit seperti ini. Emak Su sebenarnya tidak bermaksud untuk menjegal anaknya, ia hanya ingin rumahnya terlihat rapi tanpa barang-barang yang sudah tidak berguna di dalam rumah.
***
Bu Nur dan Bu Sri, masih mencari-cari data tentang SPP Al, buku besar itupun dibolak balik sampai lecek, di dalam computer pun telah dicari. Tetapi hasilnya nihil, tidak ada satu catatan pun yang menerangkan bahwa Al sudah membayar SPP bulan Juni dan Juli. Kesal tidak menemukan bukti tersebut, Bu Sri pun naik pitam. Dengan wajah bengisnya dia kembali membentak emak Su
“di catatan kami gak ada buktinya bahwa anak Ibu telah membayar SPP Juni dan Juli”
“tapi saya yakin nak, uang itu sudah dibayarkan oleh anak saya”
“ini semua salah ibu, coba kalau ada bukti SPP tidak akan begini”
“iya nak, ini salah saya tapi saya yakin uang itu telah dibayarkan”
Kali ini perdebatan antara Emak Su dan Bu Sri terjadi cukup lama dan alot, macam perdebatan wakil rakyat negeri ini yang selalu terjadi dengan alot. Sampai-sampai Emak Su meneteskan air mata, dia tidak menyangka kejadian ini akan menimpa keluarganya, disaat ekonomi makin menghimpit. Sambil mengusap air mata yang terus mengali dari matanya, Emak Su menjelaskan kepada Bu Sri.
Lagi-lagi dengan tutur kata kasarnya Bu Sri membentak Emak Su yang masih mengusap air matanya. Seolah tak punya rasa iba pada seorang yang sudah tua itu, Bu Sri mencaci habis-habisan. Karena merasa salah dan terpojok Emak Su diam saja tanpa melakukan perlawanan. Tapi Bu Sri tak kunjung menghentikan omelan-omelannya, sehingga Emak Su pun menjadi murka.
“Nak, kami memang orang miskin tapi kami tidak pernah bohong nak”
“eh bu, jangan-jangan dihabiskan uangnya sama anak ibu”
“gak mungkin nak, anak saya gak mungkin melakukan perbuatan itu”
“ibu yakin?”
“yakin nak, anak saya tidak pernah melakukan hal itu”
“ya sudahlah bu, saya capek berdebat dengan ibu gak ada habisnya. Lebih baik ibu sekarang pulang daipada nangis disini. Pekerjaan saya masih banyak bu”
“tapi Ijazah anak saya bagaimana?”
“ya, gak bisa diambil lha wong masih nunggak 2 bulan”
“Nak, asal kamu tahu, uangnya orang miskin itu panas Nak. Mudah-mudahan saja saya yang keliru, sehingga urusan kita selesai sampai disini. Tapi kalau saya yang benar, urusan kita belum selesai sampai ke akhirat kelak. Bulan April lalu keluarga kami tidak bisa makan dengan layak, hanya untuk melunasi SPP ini, lha kok sekarang dibilang belum bayar? Berdoalah Nak, semoga saya yang salah, sehingga urusan kita sampai disini saja tidak sampai ke akhirat” emak su bersumpah dengan suara yang terbata-bata diselingi isak tangis
Tapi disela-sela emak su bicara tadi, Bu Nur sempat berbisik pada Bu Sri. Yang menyatakan bahwa mungkin saja catatan pembayarannya ada di bukunya bu Sukma. Karena catatan Bu Sukma lah yang paling lengkap. Takut hal tersebut terdengar oleh Emak Su, Emak Su pun disuruh keluar oleh Bu Sri. Dia pun keluar dan menunggu di depan pintu ruangan TU. Beberapa menit kemudian Bu Sri keluar.
“ibu ngapain masih disini?”
“bagaimana kelanjutan Ijazah anak saya tadi?”
“lebih baik ibu sekarang pulang”
“Ingat Nak, kalau saya yang benar, saya tidak halal dengan uang itu. urusan kita akan sampai ke akhirat kelak”
Dengan perasaan yang masih mengganjal dan dongkol, Emak Su pun pulang. Langkahnya pun terseok-seok, setelah diusir oleh staff TU sekolah tersebut. Dai tidak menyangka perempuan yang sudah tua seperti dirinya, diperlakukan secara kasar. Sambil terus mengusap air mata yang mengalir deras dari matanya, emak su terus berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah ini, menuju keluar. Rasa sesak di dadanya pun terasa amat sangat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar