Aku merasa tersentil dengan salah satu latihan yang
diberikan saat mengikuti seminar dan workshop nasional yang bertajuk creative
writing and story telling, yang
diikuti oleh pelajar SMA, Mahasiswa, dan Pengajar. Salah
satunya mendiskripsikan Apel yang telah sedikit termakan (kerowak kalau dalam bahasa jawa) dengan bahasa serta sudut pandang yang se-menarik mungkin.
Ketika dilakukan voting untuk menetukan sang pemenang,
banyak oran g
yang mendukung laki-laki paruh baya ini, termasuk aku. Mungkin dalam acara
tersebut banyak temannya yang ikut hadir, sehingga perolehan suranya banyak.
Selain itu mungkin karena oran gnya
agak lucu, membuat para peserta memilihnya. Karena semua terlalu monoton, tapi yang satu ini
ditambah dengan melucu, sekaligus menghibur
peserta seminar. Namun keputusan Trinity, salah seorang pembicara diseminar ini, sekaligus
yang mengadakan games ini memutuskan pemenangnya adalah siswi SMA, yang deskripsinya
ditambah dengan sedikit cerita.
Seandainya aku disuruh mendiskripsikan, maka aku akan
mendiskripsikan Apel tersebut sebagai pilihan mengambil keputusan. Apel adalah
buah yang kaya akan vitamin dan mineral, disamping itu mempunyai tampilan yang hijau nan
segar. Kalau kita memutuskan untuk memakannya, makanlah semuanya sehingga kita
mendapatkan manfaat yang maksimal dari apel tersebut, dengan resiko tidak
mempunyai lagi apel tersebut. Sama halnya dengan mengambil keputusan, kalau
yakin dengan keputusan itu, ambillah jangan ragu. Karena kita akan mendapatkan
sebuah pengalaman dari keputusan itu. Seperti yang dilakukan oleh Steve Job, dalam mengambil keputusan-keputusan
yang sangat penting untuk memajukan APPLE INC (perusahaan pembuat operating system Apple Machintos).
Namun jika kita tidak ingin memakannya, jangan makan
sekalian. Temasuk mencicipi, dengan resiko tidak mendapatkan manfaat dari apel
tersebut, tetapi mendapat keuntungan bisa “dipajang” karena tampilan luarnya
yang menarik, hijau nan segar. Jangan mengambil keputusan jika tidak yakin
dengan keputusan tersebut, kalau tidak, ya tidak sama sekali. Karena jika
keputusan itu salah, kita tidak akan terjerumus pada kesalahan yang tak
berkesudahan.
Kalau keputusan kita setengah-setengah, ibarat apel yang
dimakan setengah. Selain kita tidak akan mendapatkan manfaat maksimal dari apel, dengan
segala vitamin dan mineralnya, juga tidak bisa “dipajang” karena sudah ada
bekas gigitan. Apel tesebut akan menjadi kecoklatan dan lama-lama akan busuk,
ujung-ujungya akan dibuang. Apakah pilihan kita jatuh kepada yang terakhir?
Apakah mau nasib kita seperti apel yang dimakan setengah kemudian
ditelantarkan, menjadi busuk, dan
akhirnya dibuang?
Jangan setengah-setengah dalam mengambil keputusan. Putuskanlah
“YA” atau “TIDAK SAMA SEKALI”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar