Sabtu, 06 Oktober 2012

APEL DAN SEBUAH KEPUTUSAN


Aku merasa tersentil dengan salah satu latihan yang diberikan saat mengikuti seminar dan workshop nasional yang bertajuk creative writing and story telling, yang diikuti oleh pelajar SMA, Mahasiswa, dan Pengajar. Salah satunya mendiskripsikan Apel yang telah sedikit termakan (kerowak kalau dalam bahasa jawa) dengan bahasa serta sudut pandang yang se-menarik mungkin.
Ada tiga orang yang coba mendiskripsikannya, yang pertama seorang laki-laki dengan status mahasiswa, mendiskripsikan Apel tersebut  sebagai simbol dari teknologi sistem operasi / operating system (OS) Komputer “Apple Manchintos”. Yang kedua, Seorang lelaki paruh baya mendiskripkan apel tersebut, dengan bahasa yang kurang enak & sedikit melucu, suara yang kurang lancar, serta pendiskripsiannya “kurang bermutu”, karena hanya mendiskripsikannya sesuai dengan gambar yang nampak dilayar LCD, tidak mengambil sudut pandang (angle) yang lain. Terakhir seorang siswi SMA, mencoba mendiskripsikannya dengan ditambahi sedikit cerita. Cukup menarik, tetapi tetap saja tidak mendiskripsikan sudut lain tentang Apel kerowak tersebut.
Ketika dilakukan voting untuk menetukan sang pemenang, banyak orang yang mendukung laki-laki paruh baya ini, termasuk aku. Mungkin dalam acara tersebut banyak temannya yang ikut hadir, sehingga perolehan suranya banyak. Selain itu mungkin karena orangnya agak lucu, membuat para peserta memilihnya. Karena semua terlalu monoton, tapi yang satu ini ditambah dengan melucu, sekaligus menghibur peserta seminar. Namun keputusan Trinity, salah seorang pembicara diseminar ini, sekaligus yang mengadakan games ini memutuskan pemenangnya adalah siswi SMA, yang deskripsinya ditambah dengan sedikit cerita.
Seandainya aku disuruh mendiskripsikan, maka aku akan mendiskripsikan Apel tersebut sebagai pilihan mengambil keputusan. Apel adalah buah yang kaya akan vitamin dan mineral, disamping itu mempunyai tampilan yang hijau nan segar. Kalau kita memutuskan untuk memakannya, makanlah semuanya sehingga kita mendapatkan manfaat yang maksimal dari apel tersebut, dengan resiko tidak mempunyai lagi apel tersebut. Sama halnya dengan mengambil keputusan, kalau yakin dengan keputusan itu, ambillah jangan ragu. Karena kita akan mendapatkan sebuah pengalaman dari keputusan itu. Seperti yang dilakukan oleh Steve Job, dalam mengambil keputusan-keputusan yang sangat penting untuk memajukan APPLE INC (perusahaan pembuat operating system Apple Machintos).
Namun jika kita tidak ingin memakannya, jangan makan sekalian. Temasuk mencicipi, dengan resiko tidak mendapatkan manfaat dari apel tersebut, tetapi mendapat keuntungan bisa “dipajang” karena tampilan luarnya yang menarik, hijau nan segar. Jangan mengambil keputusan jika tidak yakin dengan keputusan tersebut, kalau tidak, ya tidak sama sekali. Karena jika keputusan itu salah, kita tidak akan terjerumus pada kesalahan yang tak berkesudahan.
Kalau keputusan kita setengah-setengah, ibarat apel yang dimakan setengah. Selain kita tidak akan mendapatkan manfaat maksimal dari apel, dengan segala vitamin dan mineralnya, juga tidak bisa “dipajang” karena sudah ada bekas gigitan. Apel tesebut akan menjadi kecoklatan dan lama-lama akan busuk, ujung-ujungya akan dibuang. Apakah pilihan kita jatuh kepada yang terakhir? Apakah mau nasib kita seperti apel yang dimakan setengah kemudian ditelantarkan, menjadi busuk, dan akhirnya dibuang?
Jangan setengah-setengah dalam mengambil keputusan. Putuskanlah “YA” atau “TIDAK SAMA SEKALI”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar